Aliansi UNJ Melawan mengadakan aksi demonstrasi di daerah Rawamangun, Jakarta Timur, pada Jumat (12/06/2026). Aksi yang bertajuk #RawamangunMenggugat ini merupakan bentuk respons dari berbagai kebijakan serta kondisi di Indonesia yang banyak merugikan rakyat klo Indonesia. Sekitar 100 mahasiswa UNJ turun dalam aksi ini.
Aliansi UNJ Melawan membawa dua tuntutan, yaitu tuntutan tingkat nasional dan tuntutan kepada internal UNJ. Adapun tuntutan yang disuarakan yaitu:
- Stabilkan & Kuatkan Kembali Nilai Rupiah
- Turunkan Harga Bahan Bakar & Bahan Pokok
- Mewujudkan Kesejahteraan Guru
- Murnikan 20% APBN untuk Pendidikan
- Hentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) & Koperasi Desa Merah Putih
- Kembalikan TNI-POLRI ke Barak
- Stop Kriminalisasi Orang Muda, Bebaskan Seluruh Tahanan Politik
- Hentikan PTN-BH, Wujudkan Perguruan Tinggi Gratis & Demokratis
- Wujudkan Lingkungan Pendidikan Menjadi Ruang Aman dari Kekerasan Seksual
- Hentikan Proyek Strategis Nasional yang Merugikan Lingkungan.
Selain itu, adapun tuntutan yang disuarakan oleh mahasiswa UNJ yang ditujukan kepada UNJ, diantaranya yaitu:
- Percepat Penyelesaian Pembangunan Gedung SFD
- Tiadakan Penambahan Beban Biaya Pembelajaran di Luar UKT
- Wujudkan UKT Sesuai dengan Keadaan Ekonomi Mahasiswa
- Mahasiswa Bisa Isi IPI Rp0
- Wujudkan Ruang Aman Kampus dari Kekerasan Seksual.
Aksi ini berlangsung sebagai bentuk eskalasi dari berbagai keresahan yang telah terakumulasi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ekonomi masyarakat semakin memburuk akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah dari Rp13.851 per USD pada Januari 2021 menjadi Rp18.129 per USD pada Juni 2026. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada meningkatnya biaya produksi, harga kebutuhan pokok, hingga menurunnya daya beli masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kenaikan harga bahan pokok dan bahan bakar yang dinilai semakin membebani masyarakat. Mereka menilai lonjakan harga pangan terjadi bersamaan dengan berbagai persoalan distribusi dan kebijakan pemerintah yang belum mampu menjamin keterjangkauan kebutuhan dasar rakyat. Kenaikan harga BBM non-subsidi yang diumumkan pada 10 Juni 2026, seperti Pertamax yang naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, juga menjadi salah satu tuntutan dalam aksi kali ini.
Di bidang pendidikan, mahasiswa menyoroti kesejahteraan guru dan alokasi anggaran pendidikan yang dinilai tidak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan pendidikan secara langsung. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, justru menunjukkan hanya 47-52% dari total anggaran pendidikan atau sekitar 311-345 triliun yang benar-benar dikelola untuk kegiatan pendidikan murni. Mereka juga mengkritik status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang dianggap membuka ruang komersialisasi pendidikan dan berpotensi meningkatkan beban biaya yang harus ditanggung mahasiswa.
Mahasiswa juga menaruh perhatian terhadap isu demokrasi dan hak asasi manusia. Mereka menilai semakin menguatnya keterlibatan aparat keamanan di ruang sipil, kriminalisasi terhadap kelompok kritis, serta masih adanya tahanan politik menjadi indikator kemunduran demokrasi yang perlu segera dihentikan. Di sisi lain, berbagai proyek pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan dan mengancam ruang hidup masyarakat adat juga menjadi sorotan dalam aksi tersebut.
M. Rehan Syah, Ketua BEM FISH UNJ, menyampaikan alasan terkait massa UNJ yang tidak bergabung dalam aksi di Bundaran HI bersama dengan massa aksi dari universitas-universitas lain. Menurutnya,
“Pada dasarnya kami tidak ingin mengkotak-kotakkan pergerakan. Kami percaya bahwa semakin banyak titik pergerakan, semakin terlihat bahwasanya masyarakat Indonesia dan mahasiswa Indonesia masih peduli dan masih banyak melakukan aksi-aksi lainnya, sehingga apabila nanti terjadi aksi yang lebih besar, kami siap untuk bergabung. UNJ siap untuk membersamai kawan-kawan dan seluruh mahasiswa Indonesia untuk aksi yang lebih besar nantinya.” ujar Rehan.
Salah satu dosen UNJ, Ubedilah Badrun, terlihat juga ikut turun dalam aksi kali ini. Ubedilah menilai keresahan mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai persoalan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar, hingga kondisi demokrasi yang dinilai mengalami kemunduran. Ia menyebut aksi yang dilakukan mahasiswa merupakan konsekuensi logis dari situasi yang mereka anggap semakin memburuk.
“Mereka melakukan demonstrasi bukan untuk kepentingan mereka semata. Mereka melihat banyak masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi sehingga mereka merasa tidak bisa diam.” tutur Ubedilah.
Melalui aksi #RawamangunMenggugat, mahasiswa berharap pemerintah dan pihak kampus dapat mendengar serta menindaklanjuti berbagai tuntutan yang disampaikan. Mereka menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar bentuk protes, melainkan upaya untuk mengawal kebijakan publik agar lebih berpihak kepada kepentingan rakyat dan menjamin akses pendidikan yang adil, demokratis, serta bebas dari segala bentuk kekerasan. // SIGMA TV RAINI