Tuntutan Mahasiswa Masa Kini, Apakah College Life Balance Realistis?


Menjalankan peran hanya sebagai mahasiswa saat ini tidak cukup. Mahasiswa kerap kali mencari kesibukan lain seperti terlibat dalam organisasi atau memilih untuk kerja paruh waktu karena ketakutan akan tertinggal. Anggapan bahwa melakukan banyak hal di atas kepentingan pribadi agar terlihat tetap produktif menjadi gaya hidup masa kini. Hal ini dapat dikaitkan dengan Hustle Culture yang dimana seseorang bekerja secara berlebihan karena dianggap sebagai hal yang produktif sehingga tidak memiliki waktu luang atau bahkan menjalankan kehidupan pribadi. Maka dari itu, College Life Balance, kondisi ketika seseorang mampu membagi waktu secara seimbang antara tuntutan kuliah dan kehidupan pribadi, diharapkan dapat hadir sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Namun, apakah College Life Balance benar-benar dapat menjawab hal itu?

Melalui laman Kemenkes, dikutip dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, sebanyak 11,8% lulusan perguruan tinggi atau sekitar 945.413 orang, terdiri dari 191.681 lulusan diploma dan 753.732 sarjana, merupakan pengangguran terdidik. Kondisi ini menunjukkan bahwa gelar akademik saja tidak selalu menjamin seseorang dapat langsung memasuki dunia kerja. Akibatnya, kekhawatiran mahasiswa meningkat dan merasa perlu memperoleh pengalaman, keterampilan, dan pencapaian tambahan selama kuliah, sembari tetap mempertahankan kualitas akademik.

Dalam menjalankan multi peran yang didorong oleh faktor masing-masing mahasiswa, penting untuk mereka menyeimbangkan segala aspek dalam kehidupan. Dari luar, seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi sekaligus punya penghasilan sendiri kerap dianggap sudah ‘berhasil’ menjalani College Life Balance. Namun, apa yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan apa yang sebenarnya dirasakan di dalam. Maka, penting bagi kita untuk mendengar langsung dari seseorang yang menjalankan multi peran.

Seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi UNJ, Sazra, membagikan pengalamannya sebagai mahasiswi yang sekaligus memiliki peran dalam organisasi dan bekerja paruh waktu. Ia bermotivasi menjalankan multi peran agar jenjang karirnya lebih matang, menambah income, dan memperluas networking. Dalam wawancaranya, Sazra mengatakan bahwa College Life Balance adalah hal yang subjektif.

“Sebenarnya gapapa untuk mengambil banyak pekerjaan, asalkan tahu kesanggupan masing-masing….” Ucap Sazra. Ia juga menambahkan pandangannya mengenai College Life Balance,”tiap orang pun masih bisa dinamis. Misalnya, menurutku balance untuk sekarang itu kuliah, organisasi, dan bekerja. Tapi, bisa jadi satu tahun ke depan akan berbeda.”

Dalam wawancara, Sazra juga menceritakan bagaimana cara dia mengatur waktu dalam multi peran yang dijalankan olehnya,

“Setiap orang punya porsinya masing-masing, misalnya [untuk] aku me time itu cukup dengan aku journaling…” ucap Sazra ketika ditanya perihal membagi waktu,“…. aku masih ada waktu untuk diri sendiri, berkumpul dengan orang lain, atau keluarga tetapi intensitasnya berkurang.”

Namun, apakah keseimbangan ini benar-benar punya tolok ukur yang jelas atau hanya persepsi individu, terjawab melalui penjelasan seorang dosen Psikologi Universitas Negeri Jakarta, Bu Nanda Putri Adhiningtyas, M.Psi., Psikolog. 

Bu Nanda mengatakan bahwa tidak ada indikator khusus dalam psikologi tentang College Life Balance tetapi kita dapat melihat dari gambaran individu yang menjalankannya. Dalam hal ini, mahasiswa mampu memenuhi tuntutan dari berbagai aspek termasuk tidur yang cukup, hubungan sosial yang baik, dan memiliki waktu untuk hobi, serta yang paling penting puas dalam menjalankannya. Performa perkuliahan yang baik juga dapat menjadi salah satu aspek yang mendukung kesuksesan mahasiswa memenuhi College Life Balance.

“Tetapi, keseimbangan bukan serta merta semuanya dalam porsi yang sama dalam suatu waktu atau kondisi tapi bagaimana mahasiswa mampu memprioritaskan sesuatu….” Ucap Bu Nanda.

Pada akhirnya, keseimbangan bukan standar kaku yang seragam melainkan kesadaran dinamis tiap mahasiswa pada diri sendiri ketika mereka jujur pada batas kemampuan diri. College Life Balance dapat berhasil dan benar-benar ada bukan ketika kita berhasil melakukan semuanya sekaligus, melainkan saat kita tahu kapan harus berlari memburu peluang, kapan harus memilih, dan kapan harus beristirahat tanpa merasa bersalah. Dengan begitu, College Life Balance yang mengutamakan keseimbangan aspek kehidupan dapat berpotensi menjadi solusi atas Hustle Culture selama tiap mahasiswa jujur pada kapasitas dirinya sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top